Demi Bisa Bertahan di Tengah Corona, Beberapa UMKM Ini Banting Setir

Terhitung, sudah dua bulan virus Corona dinyatakan masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020 lalu. Hingga saat ini, pemerintah masih mengeluarkan kebijakan perihal social distancing atau physical distancing, bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan segala pembatasan tersebut, membuat perekonomian melesu, tak terkecuali dunia usaha. Pasalnya, segala gerak dibatasi sehingga para pelaku usaha mengalami kerugian karena permintaan pasar yang menurun. Salah satu pelaku usaha yang paling banyak terdampak adalah UMKM.

Dalam kondisi dan situasi seperti ini, diperlukan inovasi bagi para pelaku UMKM. Inovasi yang dilakukan adalah dengan banting setir atau mengalihkan jenis usaha dan produk yang dihasilkan.

Berikut ini ada beberapa UMKM yang terpaksa banting setir agar usaha yang dijalankan tetap berlangsung selama pandemi Corona, di antaranya:

  • UMKM Banyuwangi

Salah seorang pelaku konveksi asal Desa Tembokrejo, Muncar, Wijayanti mengaku lega bisa menyelesaikan pesanan 10.000 masker dari Pemkab Banyuwangi dalam waktu relatif singkat. “Ini berkah. Di tengah wabah Corona, saya masih dapat rezeki,” ucapnya.

Bahkan, dirinya harus menambah jumlah pekerja untuk membuat masker kain. Wijayanti pun dibantu 9 pegawai dalam pengerjaan masker ini. “Awalnya penjahit saya hanya 6 orang, lalu harus saya tambah 3 pegawai lagi untuk packing-nya. Soalnya enggak cukup kalau yang jahit juga ikut packing juga,” lanjutnya.

umkm banyuwangi bikin masker yang kemudian masker tersebut disumbangkan ke pemkab banyuwangi. foto by pemkab banyuwangi

Kepala Kejaksaan Negeri Banyuwangi M. Mikroj mengatakan, pelibatan UMKM ini membuat semakin banyak orang yang merasa dibantu. “Proses ini menolong banyak orang, mulai ekonomi penjahit kampungnya hingga warga yang butuh masker agar terhindar dari virus,” ujarnya.

Sementara Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengucapkan terima kasih kepada penjahit kampung dan UMKM yang telah bekerja keras menyelesaikan pesanan masker.

“Kami sengaja pesan ke penjahit kampung dan UMKM, bukan ke skala industri. Kalau industri memang bisa cepat, tapi pesan ke penjahit kampung bisa sedikit membantu roda ekonomi mereka. Kalau dari segi kualitas, karya penjahit kampung tak kalah. Apalagi, mereka diberi panduan tentang standar masker kain yang aman,” ujarnya.

  • UMKM Nusa Tenggara Barat (NTB)

Hal senada pun juga dilakukan oleh UMKM di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebelumnya, UMKM ini merupakan salah satu pelaku usaha konveksi kecil yang memproduksi pakaian. Sayangnya, permintaan pakaian berkurang dari biasanya. Saat ini, produk yang paling banyak permintaannya adalah masker kain. Oleh karena itu, UMKM asal NTB ini mengalihkan usahanya agar tetap bertahan. “Musim sekarang tidak ada yang butuh kain atau baju baru. Sekarang masker biarpun murah, tapi jadi kebutuhan,” ungkap salah satu pejahit baju di Kota Mataram, Saleh.

“Kalau hitungan jumlah, sangat banyak pada kebutuhan masker. Tetapi kalau dilihat dari sisi rupiah, tentu lebih banyak baju,” lanjutnya.

UMKM NTB buat masker kain. foto by lombokpost

Bahkan, dirinya mendapat pesanan masker kain kisaran 120 hingga 150 masker dalam satu minggu terakhir. Tentunya, UMKM ini membuat masker kain dengan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

  • UMKM Yogyakarta

Demi bertahan di tengah melemahnya kegiatan perekonomian akibat Covid-19, sejumlah UMKM di Gunung Kidul, Yogyakarta, Jawa Tengah, mengalihkan jenis usahanya. Salah satunya, Etik Diana, UMKM penjahitan pakaian dan pemilik usaha Walang Kaos.

Etik menuturkan, saat ini dirinya memilih untuk memproduksi masker kain lantaran banyaknya pesanan yang datang.

Biasanya, dirinya memproduksi kaus untuk oleh-oleh dan seragam untuk kegiatan dari berbagai instansi dan perusahaan. Namun, seluruh pesanan tertunda lantaran para pemesannya mengikuti anjuran pemerintah untuk tidak melakukan kegiatan di luar rumah sementara waktu. Alhasil, kain katun yang sudah disiapkan pun dimanfaatkan oleh Etik sebagai bahan masker.

Menurut Etik, dalam sehari dirinya bisa memproduksi sebanyak 300 hingga 500 lembar masker.  “Per hari bisa mencapai 300-500 masker yang dipesan dan minta dikirimkan,” ujarnya.

Meskipun begitu, Etik menganggap masker hanya sebagai produksi sampingan. Sebab, usaha ini menjadi caranya untuk bertahan di tengah situasi yang kurang kondusif.

Dalam hal ini, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop & UKM) siap membantu para pelaku Koperasi dan UMKM (KUMKM) yang ingin beralih usaha untuk memproduksi masker kain, Alat Pelindung Diri (APD), maupun hand sanitizer.

Bahkan, dalam pembuatan masker, pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar mempermudah prosedur pengurusan izin edar produk masker nonmedis.

“Untuk itu, kami akan terus dukung UKM dengan mendorong sertifikasinya. Kami sudah rapat dengan Kementerian Kesehatan dan mereka bersedia membantu agar ijin yang diperlukan UKM akan dibantu prosesnya agar bisa memenuhi permintaan pasar,” imbuh Victoria selaku Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kemenkop UKM. (Amanda/Dyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.