BEI Gelar Karpet Merah untuk UMKM dan Startup

PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar karpet merah untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Tidak hanya UMKM, bahkan startup yang ingin memberikan dana melalui pelepasan di pasar saham pun turut dihadirkan. Ada beberapa peraturan yang dibuat khusus oleh wasit pihaknya.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna Setia menjelaskan bahwa, yang dilakukan pihaknya adalah melakukan perubahan peraturan 1-A mengenai pencatatan saham dan efek bersifat ekuitas selain saham. Salah satu yang diubah, yakni perubahan penghitungan aset dari sebelumnya bersifat nyata(tangible) menjadi tidak nyata(intangible).

“Dulu ada yang namanya Net Tangible Assets (NTA), pokoknya itu aset yang berwujud saja kita hitung. Namanya NTA, tapi banyak keluhan dari banyak pihak. Karena tidak semua perusahaan asetnya berwujud,” ujar I Gede Nyoman Yetna Setia di Gedung BEI, Jakarta, Selasa lalu (17/09).

Bursa Efek Indonesia berikan UMKM dan startup untuk bertahan hidup by telegraf.co.id

Dirinya menambahkan, beberapa perusahaan startup yang berkaitan dengan digital tidak memiliki NTA. Beberapa perusahaan tersebut lebih dominan dari sisi aset tidak nyata (intangible), seperti penggunaan sistem hingga jejaring. Dalam relaksasi peraturan tersebut, BEI tetap pertahankan syarat NTA. Jika perusahaan tidak bisa memenuhi NTA, persyaratannya adalah berdasarkan perhitungan pendapatan.

“Perusahaan-perusahaan platform digital revenue bisa dipastikan ada, cuma belum tentu dia punya NTA yang misalnya nilai minimal Rp5 miliar,” terangnya.

Jika syarat pendapatan juga belum terpenuhi, maka bisa diukur dari sisi nilai kapitalisasi pasar atau cakupan besar nilai perusahaan. Selain merelaksasi peraturan, BEI juga telah meluncurkan papan akselerasi. Papan tersebut juga berbeda dengan papan utama dan papan pengembangan.

peraturan yang dibuat oleh BEI untuk UMKM dan Startup by sumselterkini.co.id

Emiten atau perusahaan yang mencari modal dari bursa, masuk ke papan akselerasi lebih kecil dari emiten yang masuk papan pengembangan. Di kelompok papan ini, emiten diberikan keleluasaan untuk memenuhi unsur good corporate governance (GCG), seperti pemenuhan syarat organ perusahaan untuk menjadi perusahaan terbuka.

“Di papan ini yang pertama kita perhatikan bagaimana dia bertahan hidup. Untuk itu, pemilihan komisaris independen misalnya, boleh nanti boleh 6 bulan sampai 1 tahun. Kalau perusahaan kecil 1 tahun, perusahaan menengah 6 bulan,” kata I Gede Nyoman Yetna Setia.

Perusahaan di papan akselerasi boleh tidak menggunakan Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan (PSAK). Dalam menyampaikan laporan keuangannya, diperbolehkan menggunakan metode penyampaian yang sederhana. Jadi, PT. Bursa Efek Indonesia memberikan perusahaan mikro, kecil, menengah, serta startup untuk bertahan hidup terlebih dahulu. Setelah terpenuhi, kemudian masuk ke papan pengembangan. (Cahyo/Tata)

Leave a Reply

Your email address will not be published.