Botol Air Bekas Bisa Beromzet Rp50 Juta/Bulan? Wanita Ini Menjawabnya!

Saat ini di era modernisasi, masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya selalu bertemu bahkan sering memakai botol air kemasan. Kenyataan ini membuat keprihatinan karena sampah botol air kemasan merajalela menimbun di Tempat Pembuangan Sampah Akhir, bahkan sampah tersebut sudah masuk ke lautan, sehingga membuat habitat hewan laut terganggu.

Untuk tidak membuat sampah botol air menimbun dengan merajalela, Syukriyatun Niamah atau Niam, lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memanfaatkan botol air minum tersebut dengan membuat bisnis perabot rumah tangga dari sampah plastik yang bernama Robries.

Lasiana Table Clock instagram @robriesgallery

Niam menjelaskan, ide tersebut muncul pada tahun 2015 ketika dirinya masih kuliah. Dirinya yang tinggal di indikos tidak membeli gallon, karena kamarnya berada di lantai dua, sehingga dirinya pun membeli botol air kemasan. Botol air kemasan tersebut tidak langsung dibuang, ia kumpulkan di depan kamar sehingga sampah plastik tersebut menumpuk. Kebiasaan tersebut pun diikuti oleh tetangga-tetangganya di indikos.

Melihat pemandangan yang tidak enak itu, Niam berpikir untuk menyelesaikan masalah sampah di tempat tinggalnya tersebut. Sebagai lulusan desain produk, dirinya mencari cara agar sampah plastik itu memiliki nilai tambah yang tinggi.

“Akhirnya, mikir dibikin apa, ya? Lihat produk recycle, ‘Kok kayak gitu, ya?’. Kalau produk recycle Indonesia masih kelihatan mereknya siapa mau pakai. Karena background desain produk, cobalah bikin produk valuable. Barangkali bisa dijual lebih mahal dan pemulung lebih terbantu, dan akhirnya mulai eksperimen,” ujar Niam.

Kenjer Table Set oleh instagram @robriesgallery

Eksperimen ini dimulai dari memotong plastik dengan cara manual atau tanpa mesin pencacah. Kemudian, potongan tersebut dilelehkan. Dalam proses pelelehan, dirinya menggunakan berbagai macam metode dan pada akhirnya menggunakan oven untuk untuk melelehkan plastik. Setelah meleleh, plastik tersebut dia cetak dengan berbentuk lembaran seperti halnya papan kayu. Lembaran kayu ini akan menjadi produk yang dihasilkan, seperti meja, kursi , dan jam dinding.

produk jam terbuat dari olahan plastik by instagram @robriesgallery

Produk yang dijual seharga Rp200 ribu untuk jam dinding, kursi lepas alias bongkar pasang seharga Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, dan meja Rp550 ribu. Dalam pemasarannya, Niam memanfaatkan komunitas dan melalui toko online. Bisnis Niam pun semakin berkembang dari sekitar Rp4 juta per bulan hingga Rp13 juta per bulan bila dirinya rajin ikut pameran. Bahkan kini, omzetnya bisa tembus Rp50 juta dalam sebulan.

Selain berjualan di dalam negeri, Niam juga telah membawa produk dagangannya tembus ke pasar Asia dan Eropa, serta dirinya juga berencana produknya menembus pasar Australia. “Paling banyak Eropa, karena lebih aware isu lingkungan. Negaranya ada Italia, Belanda, Jerman, dan negara lainnya,” ungkap Niam.

Dalam hal bisnis, menurut Niam yang terpenting adalah berani mengeksekusi ide. Bukan hanya sekadar eksekusi, sambil menjalani idenya perlu dipikirkan pula rencana pengembangan bisnis. Selain itu, perlu juga sebanyak mungkin memperkuat koneksi atau jaringan. (Andhita/Yah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.