Kreatif! Mahasiswi Ubah Ampas Tebu Jadi Permainan Tradisional

Ampas tebu yang telah menjadi limbah tersebut ternyata bisa diubah menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual. Seperti yang dilakukan oleh Mahasiswi Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya Wenny Friskillia, yang telah berhasil mengubah ampas tebu menjadi suvenir khas Indonesia dengan bentuk permainan tradisional.

Wenny Friskillia menjelaskan bahwa karyanya ini merupakan suvenir yang dibuat dengan teknik anyaman dari bahan utama ampas tebu. Ide tersebut diawali saat dirinya khawatir melihat ampas tebu yang terbuang dari pedagang minuman es tebu dan pada akhirnya mengolah limbah tersebut menjadi produk yang bernilai jual dan berguna bagi masyarakat.

Mahasisiwi Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya Wenny Friskillia by mongabay

Produk yang dihasilkan oleh Wenny ini diberi nama Nebu. “Waktu itu saya sedang menganyam dan membuat produk dari ampas tebu. Kemudian, teman saya bertanya, ‘Sedang melakukan apa?’. Saya langsung menjawab, ‘Nebu’. Itulah mengapa saya mengambil kata Nebu untuk produk ini,” ujar Wenny.

Dirinya mengaku telah melakukan wawancara dengan beberapa pedagang minuman es tebu. Ternyata, ampas tebu dibuang secara langsung karena menimbulkan bau jika dibiarkan terus menerus. Kemudian, dirinya mulai bereksperimen dan meyakini bahwa ampas tebu memiliki kandungan selulosa yang bisa menjadi peluang untuk dibuat suatu produk.

Akhirnya, Wenny pun membuat produk dari ampas tebu berupa permainan tradisional khas daerah yang dipilih berdasarkan hasil riset dan pilihan masyarakat. Permainan tradisional yang dibuat Wenny, di antaranya lompat batu, Geulayang Tunang atau Layang Kleung, Layang Kaghati, Kapal Jong, Kapal Sandeq.

Ampas tebu menjadi produk kreatif by mongabay

Proses pembuatan satu karya produk membutuhkan waktu selama dua hari. Proses pembuatannya diawali dengan mengeringkan ampas tebu terlebih dahulu di tempat yang teduh. Setelah itu, ampas tebu yang awalnya berwarna hijau akan berubah menjadi warna putih gading. Kemudian, ampas mulai dipilih serta ditipiskan dengan alat potong sehingga memiliki ukuran tinggi dan ketebalan yang sama untuk dianyam menjadi bentuk permainan tradisional.

Adapun bahan tambahan yang digunakan selama proses pembuatannya ialah kawat dan lem agar terlihat kokoh dan berdiri tegak. Satu karya produk yang dibuat Wenny Friskillia dihargai dengan Rp250.000 per buah. “Jika ditotal secara keseluruhan maka pengerjaan lima karya ini membutuhkan waktu 10 hari. Tantangan tersulit yang dihadapi adalah harus sabar menipiskan dan memotong ampas tebunya. Ukuran yang dibuat harus sama agar tidak patah saat dianyam,” pungkasnya. (Andhita/Dyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.