Batik Asal China dan India Masih Eksis di Indonesia? Kok Bisa?

Batik merupakan kerajinan asli Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO. Pemasaran batik pun berkembang pesat dan melebar ke kancah dunia. Kenyataan inilah yang membuat batik tidak terbebas dari persaingan dengan produk impor. Karena saat ini, masih ada negara-negara yang memanfaatkan batik sebagai perdagangan lintas negara. Negara-negara penghasil batik impor adalah China dan India yang nyatanya masih beredar di pasaran dalam negeri.

Pernyataan tersebut dijelaskan oleh Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Komarudin Kudiya. Dirinya juga menjelaskan mengapa produk batik impor masih marak di Indonesia, sebab batik impor memiliki harga yang lebih murah, namun dari sisi kualitas masih kalah dengan buatan lokal. Hanya kalangan tertentu yang memilih batik impor karena alasan harga.

Menurut Komarudin, peredaran batik impor mulai berkurang karena kesadaran masyarakat yang sudah memahami memilih kualitas batik. “Kelihatannya, sih, batik impor mulai berkurang, ya. Karena kualitasnya tidak begitu bagus dan masyarakat kita sudah mulai mengerti mana yang batik, mana yang tiruan batik, dan mana yang paduan tiruan batik,” ujarnya.

Komarudin mengungkapkan batik impor dari China dan India sudah beredar di beberapa daerah Indonesia, seperti Pasar Baru Bandun, Tanah Abang, Beringharjo, hingga pasar grosir di Pekalongan.

batik impor dari China dan India sudah beredar di beberapa daerah Indonesia. by IndonesianCraft

Umumnya, pedagang di pasar ini tidak mengetahui jika batik yang mereka jual adalah impor. Karena batik impor tersebut awalnya berbentuk kain yang kemudian dijahit di Indonesia. Kain batik impor tersebut dijahit melalui konveksi dengan biaya yang murah. Biasanya, untuk membuat satu pakaian dari kain batik impor itu berkisar Rp5.000 hingga Rp 10.000. Setelah dijahit dan menjadi produk, maka dijual ke pasaran.

Komarudin menilai bahwa pemerintah sudah memperketat pengawasan impor tekstil dan produk tekstik (TPT) bermotif menyerupai batik melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor  64/M-DAG/PER/8/2017 mengenai Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 85/M-DAG/PER/10/2015 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil. Namun, masih ada importir gelap yang memadukan dengan barang lain yang memang boleh diimpor.

“Harapan ke pemerintah harus membatasi termasuk importir-importir nakal tanpa dokumen. Nah, itu mesti harus segera, bagaimana caranya, ya, kan? Dengan cara menutup jalur impor mereka,” imbuh Komarudin.

Peran dunia usaha di bidang industri tekstil pun juga sangat penting, dengan melakukan edukasi kepada masyarakat agar lebih mencintai produk lokal dibandingkan impor. Selama kualitas batik lokal bisa dijaga, tidak perlu khawatir bersaing dengan batik buatan China maupun India. (Mul/Tata)

Leave a Reply

Your email address will not be published.