Mengenal Wastra Nusantara

Kain tradisional atau yang biasa disebut dengan istilah “wastra” merupakan salah satu bagian penting dalam budaya dari berbagai suku di Indonesia.  Negeri Khatulistiwa ini kaya akan warisan dan koleksi tekstil, yang mampu merefleksikan budaya masyarakatnya. Kain tradisional Indonesia dibuat dari bahan seperti buah-buahan, serat tanaman, dan kulit pohon.

Menurut Wieke Dwiharti, Antropolog dari Universitas Indonesia yang juga pecinta serta penggiat pelestarian wastra Nusantara, perkenalan masyarakat Indonesia terhadap kain tradisional terjadi sekitar abad kedua ketika pengaruh Hindu mulai masuk. “Karena letaknya yang strategis, Indonesia yang dulu bernama Nusantara ini menjadi melting pot bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya. Ada dua beradaban yang masuk kesini, yakni dari Barat dan Utara. Barat itu misalnya dari India dan sekitarnya, yang membawa budaya Hindi dan Buddha, sehingga memberi cukup banyak nuansa bagi budaya Nusantara,” ujar Wieke.

Pesona Kain Nusantara by-dnamora

Rata-rata para pendatang asing yang singgah untuk berdagang juga memberi pengaruh budaya yang berinteraksi, dan kemudian diadaptasi oleh budaya lokal. “Dalam sebuah relief di Borobudur misalnya, ada penggambaran orang memakai kain bermotif kawung,” imbuh Wieke.

Di daerah lain, wastra memiliki posisi sosial yang bernilai. Seperti masyarakat Sorong Papua, memakai tenun Timor sebagai wastra khas daerahnya, untuk menjadi mas kawin yang tentunya sebagai benda berharga. Di Timor sendiri, seorang ibu biasa memenun kain untuk diberikan sebagai warisan serta cinderamata bagi anak dan menantu mereka.

Pameran Kain Tradisional Nusantara 2016 Museum Nasional-by kebudayaankemdikbud

Dalam pengamatan Wieke, sebagai hasil kriya, berbagai jenis wastra seperti batik, tenun, songket dan lainnya, harus dirawat dan dilestarikan. Ini dikarenakan kain wastra merupakan kebutuhan tetap bagi masyarakat dari mana wastra tersebut berakar.  

Minat tinggi masyarakat untuk kembali mengenakan kain tradisional seperti batik, kini meningkat luar biasa, terlebih pasca penetapan batik sebagai warisan budaya oleh UNESCO. Hal lain sebagai penunjang yang mempengaruhi minat  terhadap kain tradisional adalah kegiatan-kegiatan pengenalan serta terbukanya wawasan masyarakat atas keberadaan wastra Nusantara lainnya. (Andhita)

Leave a Reply

Your email address will not be published.