Pasar Kejar Kuantitas dengan Kualitas KW

Dalam kaitannya dengan supply barang di pasar, perkara memilih antara kualitas atau kuantitas seringkali keputusannya berada dalam koridor ‘harga’. Kualitas bagus identik dengan ‘mahal’ sementara ‘kuantitas’ banyak dikaitkan dengan ‘murah’. (lihat link: www.indonesiancraft.co.id/main-craft/apa-itu-kualitas-dan-kuantitas)

Salah satu produk industri craft fesyen material kulit (leather), katakanlah sebuah tas, yang terbuat dari kulit asli melalui penggarapan yang mengutamakan detail dan teknik tinggi. Oleh karena itu, membutuhkan waktu yang lama pembuatannya, sehingga melekat dengan kualitas bagus. Produk serupa dengan material kulit imitasi tiruan atau sintetis, secara ekstrim melekat dengan barang ‘palsu’ atau istilah dalam pergaulan disebut abal-abal, pada produk ini tak dapat juga dikatakan tidak berkualitas, namun tentu berkualitas di lingkungan tertentu.

Di sisi lain, walau dari bahan kulit asli, tas juga bisa menjadi produk tiruan jika penggarapannya tidak secanggih menggunakan teknologi terkini, bahkan ala kadarnya. Maka ada yang disebut istilah KW (baca: kawe), singkatan dari kw(u)alitas: KW satu, KW dua, KW tiga, dan sebagainya, yang merupakan sebutan untuk produk ‘palsu’ atau ‘tiruan’ sesuai dengan levelkebagusan penggarapan produk kulit asli tersebut. Oleh karena itu, penting sebuah produk menggunakan brand, bahkan bersertifikat guna melindungi keasliannya.

imitasi_ beda kualitas beda cara merawat –biopolish

Contoh gamblang produk kulit asli berkualitas bagus dan mahal adalah tas dengan brand Hermes. Produk fashion ini dibuat dengan presisi tinggi, mulai dari proses penyamakan kulit yang tebal, keras, dan beraroma tajam hingga menjadi material kulit yang halus dan kuat, tanpa aroma tak sedap kulit binatang. Proses pewarnaannya pun demikian, dengan teknik tinggi dan warna material yang seakan menyatu bukan ditambahkan. Selanjutnya, potongan, jahitan, tambahan ornamen, dibuat sedemikian detail yang mengutamakan ‘kualitas’. Itu sebabnya tas Hermes berharga ratusan juta bahkan miliaran.

sertifikat dan garansi sebagai jaminan kualitas –the peak

Dengan material kulit lokal atau kulit imitasi, bisa dibuat tas ‘mirip’ branded Hermes. Misalnya material leather Garut, Tajur, Jogja, atau dari suatu kawasan di Asia yang terkenal piawai ‘meniru’ sebuah barang, maka hasil produksinya dibedakan dengan yang asli dalam jenjang KW. Tetapi jika terbuat dari kulit sintetis, maka disebut produk imitasi. Harga sebuah tas Hermes bisa 40 hingga 10.000 kali lipat dari produk tiruannya. Kualitas sebuah tas Hermes setara kuantitas 1.000 tas kulit lokal atau 10.000 tas sintetis berpenampilan mirip.

Secara harfiah perbedaan kualitas dan kuantitas sebuah produk tampak jelas pada contoh barang yang ditampilkan di atas. Kembali pada paragraf awal, para pemburu kualitas tentu saja berani mengambil risiko ‘harga’ mahal, demi kepuasan mendapatkan produk yang pantas dimiliki oleh customer yang bersangkutan. Sedangkan bagi pengambil risiko rendah, cukup puas mendapatkan produk yang mirip, walau itu abal-abal. (Tien/Dyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.