Kepoin, Yuk Pengusaha Sukses Berbisnis Kopi

Membangun bisnis kedai kopi bisa menjadi ancaman sekaligus tantangan. Sebab, menjamurnya jumlah coffee shop menjadi ancaman untuk pengusaha kopi yang belum mengembangkan usahanya. Namun, dengan merajalelanya coffee shop saat ini, justru menjadi tantangan untuk pengusaha kopi agar turut lebih ekstra mengembangkan usahanya dengan mengusung konsep yang unik dan variatif. Dengan konsep inilah, para pengusaha kopi tersebut menjadi sukses hingga saat ini. Para pengusaha kopi sukses tersebut membuat kalangan pencinta kopi penasaran dengan sosok di balik eksisnya brand kopi yang tengah naik daun.

Berikut IndonesianCraft mengulas beberapa pengusaha yang sukses dengan bisnis kopi yang dirangkum oleh beberapa sumber, diantaranya:

  • Forre Coffee: Mengusung Konsep Alam
Elisa Sutedja, Deputy CEO Fore Coffee by Moka

CEO Fore Coffee, Elisa Suteja memiliki keinginan membangun coffee shop sendiri, diawali dengan melihat karakteristik pembeli kopi di Indonesia. Dirinya mengakui bahwa konsumen kopi di Indonesia saat ini memiliki perilaku membeli yang unik dengan seiring tumbuhnya perusahaan on-deman, seperti Gojek dan Grab.

“Dengan munculnya layanan antar pesan online seperti itu, masyarakat Indonesia tidak perlu bingung mau buka usaha di mana. Semua cukup dilakukan di rumah,” ujar Elisa. Kemudian dirinya menginginkan kedainya menjadi tempat yang mengunggulkan pengalaman menyeruput kopi dengan menggunakan mesin penyeduh terbaik.  Nama Fore merupakan kependekan dari “Forest” dan merupakan salah satu satu akronim untuk “For Environment”. Berasal dari nama itulah yang menjadi alasan interior Fore Coffe dibuat seperti taman dengan karpet sintesis berwarna hijau.

  • Kopi Kenangan: Kopi Berkualitas Tidak Harus Mahal
CEO dan Co-Founder Kopi Kenangan Edward Tirtanata by reseuro

Jika kebanyakan bisnis kopi menyediakan gerai, maka CEO dan CoFounder Kopi Kenangan, Edward Tirtanat justru hanya menghadirkan titik persinggahan. Kopi Kenangan ini dibuka pada 22 September 2017 dengan menawarkan harga relatif terjangkau, seperti menu andalannya, yakni ‘Kopi Kenangan Mantan’ dengan harga Rp18.000,00.

Edward yang tidak menyediakan gerai kopi tersebut mengaku agar kopinya bisa dinikmati semua orang tanpa harus menguras kantong. “Konsep kita memang ‘Grab and Go’. Karena memang inginnya orang membeli kopi kita bukan karena ingin duduk, tapi ingin orang enjoy cup of coffee. Kenapa kopi mahal? Karena tempat yang mahal, beli sofa bagus dan mahal, WiFi kencang juga yang mahal. Kita tidak mau itu, kita sudah harganya murah, kopi kualitasnya bagus. Tapi kita tidak kasih sofa dan WiFi, jadi beda aliran dengan kebanyakan coffee shop yang ada,” ungkap Edward.

  • Coffee Toffee: Mengangkat Kelezatan Kopi Indonesia
Coffee Toffee dirintis oleh Odi Anindito dan Rakhma Sinseria by twitter @CoffeeToffeeIDN

Coffee Toffee dirintis oleh Odi Anindito dan Rakhma Sinseria di Surabaya pada tahun 2006, tepatnya di garasi rumah. Garasi mobil rumah tersebut disulap sebagai tempat bersantai untuk menikmati kopi bersama teman-temannya. Odi dan Ria terus menjalankan usaha kedai kopinya tersebut tanpa memikirkan manajemen atau omzet yang akan mereka dapatkan.

Nama Coffee Toffee dipilih oleh Odi dan Ria karena pengucapannya memiliki irama pas dan memiliki arti permen cokelat. Sesuai namanya, Coffee Toffee juga menawarkan cokelat sebagai menu pilihan. Kini, Coffee Toffee telah tersebar di daerah Jawa, Jakarta, Kalimantan, dan Sulawesi dengan omzet miliaran rupiah setiap bulannya. Tidak heran, kini Coffee Toffee disejajarkan dengan brand kedai kopi internasional semacam Starbucks.

IndonesianCraft juga membahas seorang pebisnis kopi yang sukses memperkenalkan kopi Indonesia ke pasar internasional. Pengusaha tersebut bernama Teuku Dharul Bawadi dengan usaha Bawadi Coffee. Berikut informasi selengkapnya mengenai perjalanan Teuku Dharul Bawadi di https://indonesiancraft.co.id/profil/bawadi-coffee-sukses-pasarkan-kopi-indonesia-ke-pasar-internasional/

(Andhita/Dyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.