Sejarah Dibalik Nasi Tumpeng

Siapa yang tidak mengenal nasi tumpeng? Semua orang mengenal nasi tumpeng di dalam kehidupannya. Sejak dulu nasi tumpeng menjadi salah satu sajian wajib saat syukuran maupun upacara adat. Dibalik itu semua, ternyata nasi tumpeng punya sejarahnya, loh.

Tumpeng ternyata sudah ada sebelum masuknya ajaran agama di Nusantara. Arie Parikesit, seorang pakar kuliner mengatakan, sebelum masuknya agama-agama ke Nusantara, nasi tumpeng sebagai bagian dari perwujudan rasa syukur kepada kekuatan besar yang mereka sembah.

Dalam bahasa Jawa, tumpeng merupakan sebuah akronim dari kata; yen metu kudusing mempeng , yang artinya, kalau keluar harus yang sungguh-sungguh. Akronim tersebut bermakna bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan dengan serius dan sungguh-sungguh sehingga hasil yang diperoleh pun akan maksimal. Selain itu, bentuk kerucut pada nasi tumpeng merupakan representasi dari kondisi geografis Indonesia yang memiliki banyak gunung dan perbukitan. Tak lupa sajian tumpeng dengan beragam aneka lauk biasanya digunakan sebagai persembahan atau sesaji untuk Dewa atau arwah leluhur. Namun, lambat laun arti tumpeng mulai mengerucut  sebagai makna dari harapan agar hidup selalu sejahtera dan penuh berkah.

tujuh macam lauk memiliki makna tersendiri – by IDN

Jika diperhatikan lagi, dalam satu sajian tumpeng pasti selalu dihidangkan dengan tujuh jenis lauk yang berbeda. Ternyata, jumlah lauk yang diletakkan di sekeliling tumpeng tersebut juga memiliki arti tersendiri, loh. Angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah pituataupitulungan, yang berarti adalah pertolongan. Arie pun menjelaskan bahwa tujuh jenis lauk yang dihidangkan bersama tumpeng merupakan simbol doa dan memohon pertolongan kepada Sang Pencipta agar diberi kelancaran dalam melaksanakan segala sesuatu.

Tak terkecuali, saat akan menyantap sajian tumpeng usai kegiatan upacara adat tradisional. Telah terjadi kekeliruan dalam memulai acara menyantap tumpeng yang tidak disadari oleh masyarakat. Umumnya, saat akan menyantap tumpeng, bagian puncak akan dipotong terlebih dahulu untuk diberikan kepada orang yang paling dihormati atau orang yang tengah melaksanakan hajat besar. Padahal, cara yang benar saat akan menyantap tumpeng adalah ‘mengeruk’ nasinya dari bawah hingga ke atas. Hal ini memiliki arti bahwa setiap makhluk hidup akan kembali ke Sang Pencipta yang disimbolkan dengan puncak tertinggi nasi tumpeng. (Saras/Dyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published.