Mempelajari Perbedaan Alat Tenun Gedog dan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)
Penenun menggunakan ATBM foto by tenun atbm

Secara tradisional, dunia tekstil Indonesia telah mengenal kain tenun Gedog. Kain ini dihasilkan oleh alat tenun tradisional tanpa mesin, yang ketika sedang proses penenunan berbunyi dog dog.  Menenun dengan alat tenun Gedog dilakukan sambil duduk di bawah dengan kaki berselonjor di lantai. Kain dari hasil tenun Gedog mempunyai ciri khas tersendiri, memberi kesan eksotis kental dengan tradisi.

tenun gendong foto by e-lodwy kshop

Dalam perkembangan teknologi, alat tenun Gedog yang juga disebut alat tenun Gendong mengalami perkembangan dengan posisi penenun tidak duduk di bawah berselonjor lagi, melainkan duduk di kursi dengan kaki menjuntai atau justru dengan cara berdiri. Sebagian penenun memang masih ada mengoperasikan ATBM sambil selonjor, tetapi tidak banyak. Alat ini kemudian dikenal sebagai ATBM yang merupakan kepanjangan dari Alat Tenun Bukan Mesin.

portal atbm 25 foto by mikirbae.com

Menurut buku “Sekilas Cerita Tenun”, sebagai perkembangan dari alat tenun Gendong, secara teknis ATBM memiliki pijakan kaki yang berguna untuk mengangkat rangkaian benang lungsi dan pakan secara bergantian. Tidak seperti tenun Gendong yang melekat dengan perempuan, ATBM seringkali dikerjakan oleh laki-laki. Hasil kain dari menenun dengan ATBM pun bisa lebih bervariasi, terutama dalam hal ukurannya. Bisa lebih panjang dan terutama dalam hal lebar.

Namun seringkali orang keliru membedakan alat tenun Gendong dan ATBM, dikira ATBM perkembangan Gendong dengan mesin.  ATBM adalah semua bentuk peralatan yang dapat membuat kain tenun digerakkan secara manual dengan tenaga manusia. ATBM di sebut juga alat tenun model TIB berasal dari kata “ Tekstile Inrichting Bandung “, karena lembaga inilah yang mula-mula menciptakan alat tenun ini di Indonesia sejak tahun 1912 .

ATBM pertama kali masuk dan di pergunakan di Kabupaten Wajo pada tahun 1950an dimana pada awalnya hanya memproduksi kain sarung Samarinda. Sejak tahun 1980an mulai memproduksi sarung sutera dengan motif “balo tettong” hingga dalam perkembangan selanjutnya ATBM bukan saja memproduksi kain sutera tetapi lebih di kembangkan dengan memproduksi kain motif tekstur polos, selendang, perlengkapan bahan pakian, asesoris rumah tangga, hotel, kantor dan sebagainya berdasarkan permintaan pasar dan konsumen.

(Susi)

Leave a Reply

Your email address will not be published.