Pelatihan ATBM UKM Mitra Binaan Bank Indonesia “Fokuskan Pasar Lokal”

Dalam rangka kelangsungan kegiatan program kemitraan dengan UKM,  Bank Indonesia (BI) menyelenggarakan acara pelatihan di Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan yang digelar selama 14 hari mulai tanggal 25 Juli 2019 ini mengusung tema: “Keterampilan Dasar Mehane dan Penggunaan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)”. Pelatihan ini diikuti oleh 15 peserta yang terdiri dari pengusaha kelompok UKM kain tenun binaan BI di Pringgasela dan Kembang Kerang, Lombok Timur, NTB.

Acara pelatihan dibuka oleh Manager Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (KPBI NTB) Suwarha Warno Wirapermana, dengan didampingi oleh Wignyo Rahadi Desainer sekaligus trainer, dan Edi Suhardiman, pejabat Konsultan Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PUMKM) KPBI NTB. Dalam pengarahannya Suwarha menekankan kepada pelaku UKM kain tenun di Pringgasela agar berpikir untuk memprioritaskan pemasaran produknya di segmen lokal daerah Lombok sendiri.

(Kanan ke kiri) Edi Suhardi, Wignyo Rahadi, Suwarha WW beserta jajarannya

“Selama ini cara berpikir kita bahwa, membuat produk kain tenun dan kerajinan hanya untuk oleh-oleh yang tujuannya akan dikonsumsi oleh wisatawan. Kalau berpikir seperti itu, bagaimana jika penjualan kepada wisatawan menurun?  Seperti ketika terjadi gempa di Lombok beberapa waktu lalu. Semua UMKM kita penjualannya menurun. Kenapa tidak kita berpikir untuk menjual ke masyarakat kita sendiri?” ujar Manager KPBI di NTB.

Suwarha memberikan penekanan bahwa target utama untuk produk kain tenun Pringgasela adalah pangsa pasar warga sendiri. Selanjutnya, Manager KPBI menjelaskan bahwa Gubernur NTB berperan penting dalam hal ini, dan sudah memberikan surat kepada pegawai bank dan perusahaan lainnya untuk mengenakan busana dari kain tenun lokal, setidaknya dalam seminggu satu kali memakai. Pihak pemerintah berharap kepada pelaku UKM kerajinan kain tenun untuk tidak berorientasi penjualan kepada wisatawan.

Perdalam ATBM

(Kanan ke kiri) Edi Suhardi, Wignyo Rahadi, Suwarha WW beserta jajarannya

Kawasan Pringgasela sendiri memiliki potensi produk kerajinan kain tenun yang khas, sebagaimana kekhasan kain tenun etnik di wilayah lainnya, khususnya di lingkup daerah Lombok. Menurut catatan BI, pelatihan kali ini membutuhkan waktu 14 hari, merupakan pelatihan paling lama dibandingkan pelatihan lain yang pernah diselenggarakan, yaitu selama dua atau tiga hari.

Dengan adanya pelatihan penggunaan ATBM, pihak BI berharap akan mempermudah UKM melakukan kegiatan produksi, dengan hasil jumlah kain tenun yang tinggi. Selain itu, Suwarha mengajak peserta untuk mengoptimalkan alat dan sasaran pasaran, ialah masyarakat NTB sendiri.

                “Harapannya, ATBM yang sudah diadakan untuk UKM dari Bank Indonesia dapat dioptimalkan. Bisa sampai berapa. Mulai sekarang,  jangan berpikir orientasinya Karya Kreatif Indonesia (KKI-pameran kerajinan UKM binaan BI, di Jakarta-red), dan kita jual ke luar. Ayo kita sama-sama garap yang di dalam, jual di pasar internal. Karena pasar lokal akan dipakai secara terus-menerus,” ujar Suwarha. (Andhita)

Leave a Reply

Your email address will not be published.